Orang Dewasa Pun Butuh Vaksin


 JAKARTA - Vaksin pelengkap atau nonwajib dalam penyebutan vaksin tidak lagi dipakai. Semua vaksin yang tercantum dalam panduan imunisasi anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sangat dianjurkan untuk diberikan kepada anak.


Adapun yang selama ini kerap disebut vaksin pelengkap adalah vaksin yang disubsidi atau yang diproduksi oleh Biofarma alias tidak impor. Harganya cenderung murah, bahkan gratis jika didapatkan dari instansi pemerintah seperti puskesmas, posyandu, atau rumah sakit milik pemerintah.


Begitu juga dengan vaksin dewasa yang sudah setujui oleh Persatuan Dokter Spesialis Penyakit Dalam. Beberapa vaksin tersebut diyakini dapat mencegah penyakit yang sekarang semakin banyak jumlah kasusnya.


Tafdhila Rahmaniah yang juga pemilik Rumah Vaksinasi Bogor menjelaskan, beberapa vaksin yang sudah diberikan sewaktu anak-anak harus diperbaharui saat dewasa. (Baca: DPR Pertanyakan Standar Ganda BPOM Terhadap Obat Buatan Unair)


"Vaksin dewasa yang paling dikenal masyarakat adalah vaksin pranikah. Untuk mempersiapkan memiliki anak, sang ibu tidak menurunkan penyakit ke anak," sebutnya.


Vaksin dewasa lainnya digunakan sebagai syarat untuk kerja atau sekolah di luar negeri, bepergian, dan umrah-haji.


Vaksin dewasa yang secara pribadi dilakukan secara individu di Indonesia setiap tahun jumlahnya semakin meningkat. Kepedulian masyarakat pun semakin tinggi untuk melakukan vaksinasi.


"Alasannya bisa juga karena ketidaktahuan mereka akan vaksinasi dewasa. Kami akui sosialisasi vaksinasi untuk anak lebih banyak dibanding untuk dewasa," kata Tafdhila.


Sementara itu, di luar negeri vaksin dewasa sudah lebih banyak lagi diberikan dan kepeduliannya lebih besar. Tentu dengan sosialisasi pentingnya vaksinasi yang lebih banyak, masyarakat menjadi lebih peduli karena teredukasi dengan baik.


Saat ini kebutuhan vaksin influenza meningkat karena kebutuhan, ditambah lagi situasi Indonesia saat ini yang pandemi. Menurut Tafdhila, vaksin influenza ini spesifik untuk mencegah virus influenza yang berbeda dengan batuk pilek biasa. Untuk penyebab batuk pilek itu, ada banyak dari bakteri dan virus, dan yang paling mematikan itu virus influenza namun dapat dicegah dengan vaksin ini. 


Jika sudah divaksin influenza, kemungkinan batuk pilek masih ada. Namun, penyebabnya bukan lagi dari virus influenza sehingga kondisinya tidak akan terlalu berat. "Perbedaannya kalau sudah influenza, muncul batuk pilek disertai demam sampai tiga minggu, nyeri kepala, tenggorokan dan linu di otot," katanya.


Di Amerika Serikat, data orang terkena influenza ini menyebabkan adanya 97% kematian bagi pasien rawat inap. Di negara empat musim, jumlahnya meningkat tajam saat musim salju. Sementara di Indonesia, kondisi itu sudah biasa sepanjang tahun sehingga tidak ada data yang jelas mengenai sakit influenza ini.


Di Tanah Air, vaksin bisa booming saat ada kasus. Misalnya, saat artis Julia Perez meninggal karena kanker serviks. Isu kanker serviks pun menjadi naik daun, bahkan vaksin HPV (human papilloma virus) pun makin dikenal orang sebagai pencegahan kanker mulut rahim ini. Terbukti, banyak perempuan yang berbondong-bondong melakukan vaksinasi HPV.


Mengenai vaksin HPV, ahli kanker dari RS Kanker Dharmais, Evlina Suzanna, berharap, vaksin HPV dapat diberikan kepada seluruh anak praremaja di Indonesia. Apalagi, menurutnya, kanker serviks menjadi kanker kedua mematikan yang bisa dicegah dengan pencegahan primer, yakni dengan vaksin HPV dan pencegahan sekunder dengan pap smear. Pap smear akan langsung mengetahui apakah ada gejala yang bisa langsung diobati sehingga tidak sempat menjadi kanker. 


HPV ini sedang diusahakan agar dapat diberikan kepada anak praremaja secara gratis. Evlina mengatakan, pemerintah dapat membeli melalui WHO dan mendapat subsidi dunia.


"Satu vaksin kita berhasil mendapatkan harga USD7 dibanding beli sendiri seharga Rp1 juta. Satu tahun pertama Rp4,4 miliar untuk 2 juta anak hanya untuk vaksin. Untuk pengelolaan dan distribusi ditanggung WHO," katanya.


Indonesia masih melakukan penawaran harga lagi hingga USD5. Namun, sampai saat ini belum deal. Padahal, menurut Evlina, Rp4 miliar itu termasuk murah untuk menyelamatkan pasien kanker. Sebab, satu orang pasien kanker dapat menghabiskan ratusan juta untuk radiasi kemoterapi hingga tindakan operasi. Padahal, biayanya hanya Rp1 juta untuk vaksin mandiri.


"Vaksin HPV di Indonesia langsung sebanyak 3 juta vaksin tentu bisa lebih murah. Anak Indonesia berhak mendapatkan vaksin HPV minimal 2 kali vaksin," ujarnya.

Popular posts from this blog

Mengenal Penyakit Batu Empedu Sejak Dini